• ASPEK DAN MODEL PELATIHAN di MGMP

     C. APSEK-ASPEK DALAM MGMP





    Aspek MGMP terdiri atas fungsi dan tugas. Fungsi MGMP ada tujuh, yaitu organisasi, program, sumber daya manusia (SDM), sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan, dan monitoring dan evaluasi. Masingmasing fungsi dirinci lagi menjadi 2 dan 3 bagian. Untuk jelasnya, aspek MGMP disajikan pada gambar berikut.




    Tugas utama MGMP adalah membantu sesama guru yang tergabung dalam anggota MGMP dalam meningkatkan kemampuan melaksanakan pembelajaran melalui bertukar pendapat mengenai persoalan yang dihadapi anggota dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran di kelas. Selain itu, MGMP juga mengembangkan dan meningkatkan kompetensi anggota guru melalui pelatihan yang terkait dengan pembelajaran.

    D. PELATIHAN

    Sebelum melakukan pelatihan, guru dites untuk mengetahui kemampuan dengan menggunakan modul untuk dijawab. Mencermati kemampuan menjawab sejumlah modul tes tersebut, guru ditempatkan pada posisi modul yang dapat diselesaikan. Jika seorang guru hanya mampu menyelesaikan 1—3 modul, maka pelatihan tersebut diberikan oleh instruktur dalam 1—3 modul yang disebut dengan pelatihan 1—3 modul. 1.

    Pola Pelatihan kepada Guru Melalui MGMP Pola pelatihan dapat dirinci menjadi dua, yaitu guru berdasarkan beban belajar dan berdasarkan kemampuan.

    a. Berdasarkan beban belajar

    b. Pola pelatihan berdasarkan beban belajar terdapat tiga jenis, yaitu pola 3 jam, pola 8 jam, dan pola 3—5 hari.

    1) Pola 3 jam: bagi peserta pemula atau peserta yang hanya memerlukan informasi secara garis besar saja tentang apa, mengapa dan bagaimana kurikulum sehingga mereka mampu menetapkan kebijakan tentang kebutuhan pelatihan yang diperlukan, baik sekolah maupun bagi sekolah di provinsi/ kabupaten/kota tertentu.

    2) Pola 8 jam (sehari): peserta memahami secara menyeluruh tentang apa, mengapa dan bagaimana kurikulum sehingga mereka mampu membuat kurikulum sendiri serta menetapkan pola pelatihan yang diperlukan bagi sekolah-sekolah di provinsi/kota/kabupatennya. Pola ini memberikan informasi lengkap tapi tanpa praktik.

    3) Pola 3—5 hari: bagi sekolah-sekolah yang memerlukan bimbingan secara lengkap serta bagi para calon pelatih yang akan memberikan pendampingan kepada sekolah sehingga sekolah mampu mengembangkan kuriukulum sendiri.

    c. Pola pelatihan berdasarkan kemampuan

    Pola pelatihan berdasarkan kemampuan terdiri atas dua jenis, yaitu pemula dan madya.

    1) Pemula: bagi peserta yang baru pertama kali mendengar tentang kurikulum sehingga memerlukan orientasi awal tentang kewajiban/hak sekolah untuk mengembangkan kurikulumnya sendiri.

    2) Madya: bagi peserta yang telah memperoleh informasi awal(pemula) tentang KTSP dan ingin memperoleh penjelasa lebih lanjut sehingga mereka mampu menetapkan pendampingan, pelatihan, dan sosialisasi yang diperlukan bagi tenaga kependidikan di sekolah serta daerahnya masingmasing.



    2. Strategi Kegiatan

    Strategi kegiatan pelatihan dilakukan dalam enam tahapan seperti disajikan berikut ini.

    a. Kegiatan diawali dengan menggali informasi melalui sejumlah aktivitas antara lain:

    1) berkonsultasi dengan pimpinan dan ahli yang relevan,

    2) mengkaji literatur tentang pelatihan kurikulum dan hasil pelatihan kurikulum, serta

    3) mengkaji literatur terkait dengan data sekunder.

    Hasil yang diperoleh pada tahap ini dimuat pada bab tentang kajian literatur dan kajian data sekunder.

    b. Tahapan setelah kegiatan awal ini, yakni dikembangkannya model pelatihan yang memberdayakan MGMP.

    c. Kegiatan berikutnya, yakni kelompok diskusi terpumpun (KDT) untuk menggali informasi dari narasumber yang relevan dengan melakukan brain storming terkait dengan isu yang akan dilakukan termasuk langkah kegiatannya.

    d. Pengembangan instrumen dilakukan setelah KDT. Tahapan yang dilakukan pada pengembangan 
  • You might also like

IKLAN

Histhats